
Blokade Hormuz Dorong Minyak Naik Lebih dari 10%
Newsmaker.id – Harga Minyak kembali melonjak pada perdagangan Selasa (14/7) setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat di kawasan Selat Hormuz. Minyak Brent naik sekitar 2% ke US$84,98 per barel, sedangkan West Texas Intermediate menguat 2,1% menjadi US$79,79 per barel. Kenaikan tersebut melanjutkan lonjakan hampir 10% pada perdagangan sebelumnya dan membawa Minyak ke level tertinggi dalam satu bulan.
Penguatan harga Minyak dipicu keputusan Presiden AS Donald Trump untuk kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal Iran yang keluar dan masuk melalui kawasan tersebut. Trump juga meminta pembayaran sebesar 20% atas kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai kompensasi atas upaya Amerika Serikat menjaga keamanan jalur pelayaran strategis itu. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Amerika Serikat bagian timur.
Ketegangan meningkat setelah Iran dituduh menyerang kapal-kapal tanker milik Uni Emirat Arab, sementara pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan mengurangi kemampuan Teheran dalam mengganggu pelayaran komersial, tetapi aksi balasan Iran dan kelompok regional lainnya meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran ekspor Minyak dari Timur Tengah.
Risiko pasokan global juga bertambah setelah pemerintahan Trump menyepakati langkah untuk melanjutkan rancangan sanksi Rusia yang diperjuangkan mendiang Senator Lindsey Graham. Rancangan tersebut dapat memberikan kewenangan kepada AS untuk menjatuhkan Tarif dan sanksi kepada negara-negara yang terus membeli Minyak serta gas alam Rusia. Kebijakan itu berpotensi mendorong pembeli mencari sumber energi alternatif dan memperketat Pasar Minyak dunia.
Dampak terhadap Pasar :
Harga Minyak: Momentum kenaikan berpotensi berlanjut selama ketegangan di Selat Hormuz belum mereda. Gangguan pelayaran yang lebih besar dapat memperketat pasokan dan mendorong Brent menuju level yang lebih tinggi.
Inflasi global: Kenaikan biaya energi dapat meningkatkan ongkos transportasi, produksi, dan distribusi. Kondisi tersebut berisiko memperlambat penurunan inflasi serta membuat bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Emas: Konflik geopolitik dapat mendukung permintaan Emas sebagai aset aman. Namun, kenaikan Minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi berpotensi membatasi Penguatan logam mulia.
Dolar AS: Dolar berpeluang memperoleh dukungan dari permintaan aset aman dan ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat. Yield Obligasi AS tenor 10 tahun juga telah bergerak naik di tengah kekhawatiran inflasi.(CP)
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
Analisis Fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.