
Yen Tertekan ke Level Terlemah Sejak 1986
Yen Jepang kembali melemah tajam terhadap Dolar AS pada perdagangan Selasa (30/6). USD/JPY bergerak di sekitar 162,65, naik 0,44% secara harian, dan tetap berada dekat level tertinggi dalam beberapa dekade.
Tekanan terhadap yen masih didorong oleh kuatnya Dolar AS dan lebarnya selisih suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat. Bank of Japan memang telah menaikkan suku bunga kebijakan ke 1% pada Juni, level tertinggi sejak 1995. Namun, angka tersebut masih jauh di bawah kisaran suku bunga Federal Reserve yang berada di 3,50% hingga 3,75%.
Selisih suku bunga sekitar 250 basis poin tersebut membuat yen tetap menjadi mata uang yang kurang menarik bagi investor pencari imbal hasil. Kondisi ini juga menjaga minat terhadap carry trade, yaitu strategi meminjam mata uang berbunga rendah seperti yen untuk membeli aset atau mata uang dengan imbal hasil lebih tinggi seperti Dolar AS.
Dolar AS kembali mendapat dukungan setelah sempat terkoreksi. Ketegangan terkait Iran masih menambah kekhawatiran inflasi, terutama jika risiko energi kembali meningkat. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Komentar hawkish dari Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, juga ikut menopang Dolar. Hammack mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan The Fed mungkin perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan jika tekanan harga tetap bertahan.
Data ekonomi Amerika Serikat turut mendukung pandangan tersebut. Laporan Job Openings and Labor Turnover Survey atau JOLTS menunjukkan lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada Mei, lebih tinggi dari ekspektasi Pasar. Meski perekrutan masih lemah, data ini menunjukkan Pasar tenaga kerja AS belum benar-benar kehilangan kekuatan.
Investor kini menunggu data ADP Employment Change dan laporan Nonfarm Payrolls untuk mencari petunjuk baru mengenai arah kebijakan The Fed. Jika data tenaga kerja kembali kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga AS berpotensi meningkat dan dapat semakin menekan yen.
Dari Jepang, pejabat Pemerintah terus menyampaikan peringatan verbal terkait potensi intervensi valuta asing. Chief Cabinet Secretary Minoru Kihara menyatakan otoritas siap mengambil tindakan yang diperlukan di Pasar valuta asing jika dibutuhkan. Menteri Keuangan Satsuki Katayama juga menegaskan Pemerintah akan merespons pergerakan mata uang yang berlebihan secara tepat.
Meski demikian, peringatan verbal tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan yen. Pasar menilai intervensi Jepang mungkin hanya efektif dalam jangka pendek jika faktor utama pelemahan yen, yaitu selisih suku bunga yang lebar dan kekuatan Dolar AS, belum berubah.
Di sisi Bank of Japan, diskusi internal masih menunjukkan arah normalisasi kebijakan secara bertahap. Sejumlah pembuat kebijakan menyoroti risiko inflasi yang lebih persisten, terutama akibat yen lemah dan biaya impor yang meningkat. Namun, pendekatan BoJ yang masih hati-hati membuat daya tarik yen tetap terbatas.
Secara keseluruhan, USD/JPY masih berada dalam tren kuat selama Dolar AS didukung ekspektasi suku bunga tinggi dan data ekonomi yang solid. Risiko intervensi Jepang dapat memicu koreksi tajam sewaktu-waktu, tetapi selama selisih yield AS-Jepang tetap lebar, tekanan terhadap yen berpotensi bertahan. (arl)
Sumber: Newsmaker.id
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam Software Trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
Analisis Fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.