Nilai tukar ringgit Malaysia mengalami pelemahan terhadap dolar AS dan telah mencapai level terendah sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1997-1998. Pada Oktober 2023, nilai ringgit melemah hingga 8% terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di ASEAN. Faktor utama pelemahan ini termasuk permintaan yang kuat terhadap dolar AS akibat konflik Israel-Hamas dan keputusan Bank Negara Malaysia untuk tidak menaikkan suku bunga sejak Juli. Untuk mengatasi masalah ini, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mencari mitra dagang yang menerima pembayaran dalam ringgit untuk mendukung nilai mata uang mereka.