
Selisih Kebijakan Tekan EUR/USD
Euro kembali melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Rabu (24/6) sesi Eropa, memperpanjang penurunan untuk hari ketiga berturut-turut. EUR/USD turun ke sekitar 1,1350, tertekan oleh Penguatan Dolar AS yang masih mendominasi Pasar valuta asing. Di saat yang sama, indeks Dolar AS atau DXY bergerak mendekati 101,55, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap greenback di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Tekanan utama bagi euro datang dari perubahan ekspektasi Pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Pertemuan The Fed pekan lalu di bawah Ketua baru Kevin Warsh dibaca Pasar sebagai sinyal hawkish. Dot plot terbaru menunjukkan sembilan dari 19 pejabat The Fed kini melihat perlunya kenaikan suku bunga tahun ini. Ini menjadi perubahan besar dibanding proyeksi sebelumnya pada Maret, ketika belum ada pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga.
Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat tajam. Berdasarkan CME FedWatch, Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 71% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Kondisi ini membuat Dolar AS semakin menarik karena investor mengejar potensi imbal hasil yang lebih tinggi. Sebaliknya, euro menjadi tertekan karena selisih ekspektasi kebijakan antara The Fed dan European Central Bank semakin melebar.
Dari sisi Eropa, tekanan terhadap euro juga datang dari kondisi ekonomi zona euro yang masih rapuh. Data terbaru menunjukkan aktivitas sektor swasta zona euro masih berada di zona kontraksi untuk bulan ketiga berturut-turut. Meski beberapa pejabat ECB masih memperkirakan tekanan inflasi bertahan di atas target 2%, Pasar melihat ruang ECB untuk bersikap lebih agresif mulai terbatas karena pertumbuhan ekonomi belum cukup kuat.
Selain faktor suku bunga, Pasar juga mencermati meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah setelah prospek damai antara Amerika Serikat dan Iran membaik. Meredanya tekanan harga energi dapat mengurangi kebutuhan ECB untuk mengetatkan kebijakan lebih jauh. Namun, bagi Dolar AS, kombinasi ekonomi yang lebih kuat, yield Treasury yang tinggi, dan sikap The Fed yang hawkish tetap menjadi dorongan utama.
Ke depan, arah EUR/USD akan sangat bergantung pada data inflasi Amerika Serikat, terutama Personal Consumption Expenditures atau PCE yang menjadi indikator favorit The Fed. Jika data inflasi masih panas, Dolar berpeluang melanjutkan Penguatan dan EUR/USD bisa kembali menguji area bawah. Namun, jika inflasi mulai mereda, tekanan terhadap euro dapat berkurang dan pasangan ini berpeluang mencoba rebound teknikal. (arl)
Sumber: Newsmaker.id
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan Instrumen Investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
analisis fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.