
Minyak Turun Hampir 3% usai AS–Iran Resmi Gelar Pembicaraan di Oman
Harga Minyak ditutup melemah hampir 3% pada Kamis (5/2) dalam perdagangan yang volatil, setelah Amerika Serikat dan Iran sepakat menggelar pembicaraan di Oman pada Jumat. Kesepakatan ini meredakan kekhawatiran Pasar soal gangguan pasokan Minyak Iran, sehingga premi risiko geopolitik di harga Minyak ikut menyusut.
Kontrak Minyak Brent ditutup turun $1,91 (-2,75%) ke $67,55 per barel, sementara WTI ditutup turun $1,85 (-2,84%) ke $63,29 per barel.
Meski begitu, Pasar belum sepenuhnya yakin jalur diplomasi akan menghasilkan kesepakatan yang mulus. Sejumlah analis menilai masih ada skeptisisme bahwa kesepakatan “masuk akal” bisa dicapai, sehingga volatilitas tetap tinggi karena trader menimbang ulang peluang eskalasi versus de-eskalasi.
Fokus Pasar juga kembali tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima konsumsi Minyak dunia. Banyak eksportir utama OPEC—seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak—mengandalkan jalur ini, termasuk Iran. Situasi ini membuat setiap perubahan sentimen geopolitik cepat tercermin di harga.
Volatilitas sepanjang awal tahun juga mendorong pelaku Pasar ramai “mengunci” harga. Aktivitas lindung nilai dan kontrak terkait WTI Midland di Houston disebut mencetak volume tinggi pada Januari, seiring kekhawatiran pasokan Timur Tengah dan tambahan arus barel menuju kawasan Gulf Coast AS.
Dari sisi sentimen komoditas, Penguatan Dolar AS dan gejolak tajam di logam mulia turut menekan risk appetite secara lebih luas pada Kamis, menambah beban bagi Pasar energi.
Sementara itu, dinamika pasokan global ikut berubah. Diskon ekspor Minyak Rusia ke China dilaporkan melebar ke level ekstrem ketika penjual menurunkan harga untuk menjaga permintaan, di tengah potensi berkurangnya pembelian dari India. Pasar juga merespons kabar kesepakatan dagang AS–India, di mana India disebut setuju menghentikan pembelian Minyak Rusia.
Di Amerika Latin, Argentina diperkirakan dapat meningkatkan surplus perdagangan energi pada 2026 berkat kenaikan produksi Minyak dari formasi shale Vaca Muerta, dengan estimasi surplus berada di kisaran $8,5 miliar–$10 miliar.(yds)
Sumber: Reuters
Analisis Komprehensif Pasar Minyak
Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.
Faktor Penentu Harga Minyak
- Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
- Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
- Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
- Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
analisis fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.